• adam
  • Minggu, 15 Maret 2015

    MAKALAH PERKEMBANGAN HADIST



    BAB I
    PENDAHULUAN
    A.Latar Belakang
          Dalam perkembangan jaman banyak sekali orang-orang yang melakukan suatu aktivitas dalam kehidupannya yang memegang pedoman yakni al-quran dan al-hadis.Namun disisi lain orang yang menjadikan hadis sebagi pedoman pelengkap jarang sekali yang mngetahui detail apa itu hadis?dan bagi mana ceritanya kita mengetahui hadis dan dari mana kita tau hadis.
      Dijaman serempak ini golongan umat islam jarang sekali yang mengetahui sejarah hadis apa lagi perkembanganya  untuk menghindari unek-unek kekeliruan maka kita sebagi umat islam setidanya harus tau sejarah perkembangan hadis dari zaman rosullulloh sampi sekarang karan hadis merupakan pedoman khususnya bagi umat islam.

    B. Rumusan Masalah
    1.      Bagaimana sejarah perkembangan hadis pada periode Rasulullah ?
    2.      Bagaimana sejarah perkembangan hadis pada periode sahabat ?
    3.      Bagaimana sejarah perkembangan hadis pada periode tabi’in sampai sekarang ?











    BAB II
    PEMBAHASAN

    1.      Sejarah Perkembangan Hadits
             Sejarah perkembangan hadis merupakan masa atau periode yang telah dilalui oleh hadis dari masa lahirnya dan tumbuh dalam pengenalan, penghayatan, dan pengamalan umat dari generasi ke generasi.[1][1] Dengan memerhatikan masa yang telah dilalui hadis sejak masa timbulnya/lahirnya di zaman Nabi SAW meneliti dan membina hadis, serta segala hal yang memengaruhi hadis tersebut. Para ulama Muhaditsin membagi sejarah hadis dalam beberapa periode. Adapun para`ulama penulis sejarah hadis berbeda-beda dalam membagi periode sejarah hadis. Ada yang membagi dalam tiga periode, lima periode, dan tujuh periode.[2][2]M. Hasbi Asy-Shidieqy membagi perkembangan hadis menjadi tujuh periode[3][3], sejak periode Nabi SAW hingga sekarang, yaitu sebagai berikut.

    a.       Periode Pertama: Perkembangan Hadits pada Masa Rasulutlah SAW.
             Periode ini disebut `Ashr Al-Wahyi wa At-Taqwin' (masa turunnya wahyu dan pembentukan masyarakat Islam).[4][4] Pada periode inilah, hadis lahir berupa sabda (aqwal), af’al, dan taqrir Nabi yang berfungsi menerangkan AI-Quran untuk menegakkan syariat Islam dan membentuk masyarakat Islam. Para sahabat menerima hadis secara langsung dan tidak langsung. Penerimaan secara langsung misalnya saat Nabi SAW. mennheri ceramah, pengajian, khotbah, atau penjelasan terhadap pertanyaan para sahabat. Adapun penerimaan secara tidak langsung adalah mendengar dari sahabat yang lain atau dari utusan-utusan, baik dari utusan yang dikirim oleh Nabi ke daerah-daerah atau utusan daerah yang datang kepada Nabi. Pada masa Nabi SAW, kepandaian baca tulis di kalangan para sahabat sudah bermunculan, hanya saja terbatas sekali. Karena kecakapan baca tulis di kalangan sahabat masih kurang, Nabi menekankan untuk menghapal, memahami, memelihara, mematerikan, dan memantapkan hadis dalam amalan sehari-hari, serta mentablig¬kannya kepada orang lain.
    b.      Periode Kedua: Perkembangan Hadis pada Masa Khulafa' Ar-Rasyidin (11 H-40 H)
             Periode ini disebut ‘Ashr-At-Tatsabbut wa Al-Iqlal min Al-Riwayah’ (masa membatasi dan menyedikitkan riwayat). Nabi SAW wafat pada tahun 11 H. Kepada umatnya, beliau meninggalkan dua pegangan sebagai dasar bagi pedoman hidup, yaitu Al-Quran dan hadis (As-Sunnah yang harus dipegangi dalam seluruh aspek kehidupan umat.[5]
             Pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar, periwayatan hadis tersebar secara terbatas. Penulisan hadis pun masih terbatas dan belum dilakukan secara resmi. Bahkan, pada masa itu, Umar melarang para sahabat untuk memperbanyak meriwayatkan hadis,dan  sebaliknya, Umar menekankan agar para sahabat mengerahkan perhatiannya untuk menyebarluaskan Al-Quran.[6][6]`,/ Dalam praktiknya, ada dua sahabat yang meriwayatkan hadis, yakni:
    1. Dengan lafazh asli, yakni menurut lafazh yang mereka terima dari Nabi SAW yang
        mereka hapal benar lafazh dari Nabi.
    2. Dengan maknanya saja; yakni mereka merivttayatkan maknanya karena tidak hapal
        lafazh asli dari Nabi SAW.[7][7]

    c.       Periode Ketiga: Perkembangan pada Masa Sahabat Kecil dan Tabiin
             Periode ini disebut ‘Ashr Intisyar al-Riwayah ila Al-Amslaar’ (masa berkembang dan meluasnya periwayatan hadis).[8][8] Pada masa ini, daerah Islam sudah meluas, yakni ke negeri Syam, Irak, Mesir, Samarkand, bahkan pada tahun 93 H, meluas sampai ke Spanyol. Hal ini bersamaan dengan berangkatnya para sahabat ke daerah-daerah tersebut, terutama dalam rangka tugas memangku jabatan pemerintahan dan penyebaran ilmu hadis.
             Para sahabat kecil dan tabiin yang ingin mengetahui hadis-hadis Nabi SAW diharuskan berangkat ke seluruh pelosok wilayah Daulah Islamiyah untuk menanyakan hadis kepada sahabat-sahabat besar yang sudah tersebar di wilayah tersebut. Dengan demikiari, pada masa ini, di samping tersebarnya periwayatan hadis ke pelosok-pelosok daerah Jazirah Arab, perlawatan untuk mencari hadis pun menjadi ramai.
             Karena meningkatnya periwayatan hadis, muncullah bendaharawan dan lembaga-lembaga (Centrum Perkembangan) hadis di berbagai daerah di seluruh negeri.
             Adapun lembaga-lembaga hadis yang menjadi pusat bagi usaha penggalian, pendidikan,dan  pengembangan hadis terdapat di: Mekah, Madinah, Bashrah, Syam, Mesir.
              Pada periode ketiga ini mulai muncul usaha pemalsuan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini terjadi setelah wafatnya Ali r.a. Pada masa ini, umat Islam mulai terpecah-pecah menjadi beberapa golongan: Pertama, golongan ‘Ali Ibn Abi Thalib, yang kemudian dinamakan golongan Syi'ah. Kedua, golongan khawarij, yang menentang ‘Ali, dan golongan Mu'awiyah, dan ketiga; golongan jumhur (golongan pemerintah pada masa itu).
            Terpecahnya umat Islam tersebut, memacu orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk mendatangkan keterangan-keterangan yang berasal dari Rasulullah SAW. untuk mendukung golongan mereka. Oleh sebab itulah, mereka membuat hadis palsu dan   menyebarkannya kepada masyarakat.

    d.      Periode Keempat: Perkembangan Hadis pada Abad II dan III Hijriah
            Periode ini disebut Ashr Al-Kitabah wa Al-Tadwin (masa penulisan dan pembukuan). Maksudnya, penulisandan  pembukuan secara resmi, yakni yang diselenggarakan oleh atau atas inisiatif pemerintah. Adapun kalau secara perseorangan, sebelum abad II H hadis sudah banyak ditulis, baik pada masa tabiin, sahabat kecil, sahabat besar, bahkan masa Nabi SAW[9][9]
             Masa pembukuan secara resmi dimulai pada awal abad II H, yakni pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Abdul Azis tahun 101 H,[10][10] Sebagai khalifah, Umar Ibn Aziz sadar bahwa para perawi yang menghimpun hadis dalam hapalannya semakin banyak yang meninggal. Beliau khawatir apabila tidak membukukandan  mengumpulkan dalam buku-buku hadis dari para perawinya, ada kemungkinan hadis-hadis tersebut akan lenyap dari permukaan bumi bersamaan dengan kepergian para penghapalnya ke alam barzakh.
             Untuk mewujudkan maksud tersebut, pada tahun 100 H, Khalifah meminta kepada Gubernur Madinah, Abu Bakr Ibn Muhammad Ibn Amr Ibn Hazmin (120 H) yang menjadi guru Ma'mar- Al-Laits, Al-Auza'i, Malik, Ibnu Ishaq, dan Ibnu Abi Dzi'bin untuk membukukan hadis Rasul yang terdapat pada penghapal wanita yang terkenal, yaitu Amrah binti Abdir Rahman Ibn Sa'ad Ibn Zurarah Ibn `Ades, seorang ahli fiqh, murid `Aisyah r.a. (20 H/642 M-98 H/716 M atau 106 H/ 724 M), dan hadis-hadis yang ada pada Al-Qasim Ibn Muhammad Ibn Abi Bakr Ash-Shiddieq (107 H/725 M), seorang pemuka tabiin dan salah seorang fuqaha Madinah yang tujuh.[11][11]
            Di samping itu, Umar mengirimkan surat-surat kepada gubernur yang ada di bawah kekuasaannya untuk membukukan hadis yang ada pada ulama yang tinggal di wilayah mereka masing-masing. Di antara ulama besar yang membukukan hadis atas kemauan Khalifah adalah Abu Bakr Muhammad Ibn Muslim ibn Ubaidillah Ibn Syihab Az-Zuhri, seorang tabiin yang ahli dalam urusan fiqh dan hadits.[12][12] Mereka inilah ulama yang mula-mula membukukan hadis atas anjuran Khalifah.
            Pembukuan seluruh hadist yang ada di Madinah dilakukan oleh Imam Muhammad Ibn Muslim Ibn Syihab Az-Zuhri, yang memang terkenal sebagai seorang ulama besar dari ulama-ulama hadist pada masanya.
            Setelah itu, para ulama besar berlomba-lomba membukulcan hadist atas anjuran Abu `Abbas As-Saffah dan anak-anaknya dari khalifah-khalifah ‘Abbasiyah.
             Berikut tempat dan nama-nama tokoh dalam pengumpulan hadits :
    1.        Pengumpul pertama di kota Mekah, Ibnu Juraij (80-150 H)
    2.        Pengumpul pertama di kota Madinah, Ibnu Ishaq (w. 150 H)
    3.        Pengumpul pertama di kota Bashrah, Al-Rabi' Ibrl Shabih (w. 160 H)
    4.        Pengumpul pertama di Kuffah, Sufyan Ats-Tsaury (w. 161 H.)
    5.        Pengumpul pertama di Syam, Al-Auza'i (w. 95 H)
    6.        Pengumpul pertama di Wasith, Husyain Al-Wasithy (104-188 H)
    7.        Pengumpul pertama diYaman, Ma'mar al-Azdy (95-153 H)
    8.        Pengumpul pertama di Rei, Jarir Adh-Dhabby (110-188 H)
    9.        Pengumpul pertama di Khurasan, Ibn Mubarak (11 -181 H)
    10.    Pengumpul pertama di Mesir, Al-Laits Ibn Sa'ad (w. 175 H).[13][13]
           Semua ulama yang membukukan hadis ini terdiri dari ahli-ahli pada abad kedua Hijriah.
           Kitab-kitab hadis yang telah dibukukan dan dikumpulkan dalam abad kedua ini, jumlahnya cukup banyak. Akan tetapi, yang rnasyhur di kalangan ahli hadis adalah:
    1.        Al-Muwaththa', susurran Imam Malik (95 H-179 H);
    2.        Al-Maghazi wal Siyar, susunan Muhammad ibn Ishaq (150 H)
    3.        Al-jami', susunan Abdul Razzaq As-San'any (211 H)
    4.        Al-Mushannaf, susunan Sy'bah Ibn Hajjaj (160 H)
    5.        Al-Mushannaf, susunan Sufyan ibn 'Uyainah (198 H)
    6.        Al-Mushannaf, susunan Al-Laits Ibn Sa'ad (175 H)
    7.        Al-Mushannaf, susnan Al-Auza'i (150 H)
    8.        Al-Mushannaf, susunan Al-Humaidy (219 H)
    9.       Al-Maghazin Nabawiyah, susunan Muhammad Ibn Waqid Al¬Aslamy.
    10.    A1-Musnad, susunan Abu Hanifah (150 H).
    11.    Al-Musnad, susunan Zaid Ibn Ali.
    12.    Al-Musnad, susunan Al-Imam Asy-Syafi'i (204 H).
    13.    Mukhtalif Al-Hadis, susunan Al-Imam Asy-Syafi'i.[14][14]
          Tokoh-tokoh yang masyhur pada abad kedua hijriah adalah Malik,Yahya ibn Sa'id AI-Qaththan, Waki Ibn Al-Jarrah, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Uyainah, Syu'bah Ibnu Hajjaj, Abdul Ar-Rahman ibn Mahdi, Al-Auza'i, Al-Laits, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi'i.[15][15]
    e.       Feriode Kelima: Masa Men-tasbih-kan Hadis dan Penyusuran Kaidah-Kaidahnya
            Abad ketiga Hijriah merupakan puncak usaha pembukuan hadis. Sesudah kitab-kitab Ibnu Juraij, kitab Muwaththa' -Al-Malik tersebar dalam masyarakat dan disambut dengan gembira, kemauan menghafal hadis, mengumpul, dan membukukannya semakin meningkat dan mulailah ahli-ahli ilmu berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dari sebuah negeri ke negeri lain untuk mencari hadis.[16][16]
            Pada awalnya, ulama hanya mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat di kotanya masing-masing. Hanya sebagian kecil di antara mereka yang pergi ke kota lain untuk kepentingan pengumpulan hadis.
            Keadaan ini diubah oleh AI-Bukhari. Beliaulah yang mula-mula meluaskan daerah-daerah yang dikunjungi untuk mencari hadis. Beliau pergi ke Maru, Naisabur, Rei, Baghdad, Bashrah, Kufah, Mekah, Madinah, Mesir, Damsyik, Qusariyah, `Asqalani,dan  Himsh.
            Imam Bukhari membuat terebosan dengan mengumpulkan hadis yang tersebar di berbagai daerah. Enam tahun lamanya Al-Bukhari terus menjelajah untuk menyiapkan kitab Shahih-nya.
            Para ulama pada mulanya menerima hadist dari para rawi lalu menulis ke dalam kitabnya, tanpa mengadakan syarat-syarat menerimanya dan tidak memerhatikan sahih-tidaknya. Namun, setelah terjadinya pemalsuan hadis dan adanya upaya dari orang-orang zindiq untuk rpengacaukan hadis, para ulama pun melakukan hal-hal berikut.
                          a.         Membahas keadaan rawi-rawi dari berbagai segi, baik dari segi keadilan, tempat kediaman, masa, dan  lain-lain.
                       b.       Memisahkan hadis-hadis yang sahih dari hadis yang dha'if yakni dengan men-tashih-kan hadist
           U1ama hadist yang mula-mula menyaringdan  membedakan hadist-hadist yang sahih dari yang palsu dan  yang lemah adalah Ishaq ibn Rahawaih, seorang imam hadis yang sangat termasyhur.
           Pekerjaan yang mulia ini kemudian diselenggarakan dengan sempurna oleh Al-Imam Al-Bukhari. Al-Bukhari menyusun kitab-kitabnya yang terkenal dengan nama Al-jamius Shahil. Di dalam kitabnya, ia hanya membukukan hadis-hadis yang dianggap sahih. Kemudian, usaha A1-Bukhari ini diikuti oleh muridnya yang sangat alim, yaitu Imam Muslim.
            Sesudah Shahih Bukhari dan  Shahih Muslim, bermunculan imam lain yang mengikuti jejak Bukhari dan  Muslim, di antaranya Abu Dawud, At-Tirmidzi,dan  An-Nasa'i. Mereka menyusun kitab-kitab hadis yang dikenal dengan Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslirn, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi,dan  Sunan An-Nasa'i. Kitab-kitab itu kemudian dikenal di kalangan masyarakat dengan judul Al-Ushul Al-Khamsyah.
            Di samping itu, Ibnu Majah menyusun Sunan-nya. Kitab Sunan ini kemudian digolongkan oleh para ulama ke dalam kitab-kitab induk sehingga kitab-kitab induk itu menjadi sebuah, yang kemudian dikenal dengan nama Al-Kutub Al-Sittah.
    Tokoh-tokoh hadis yang lahir dalam masa ini adalah:
                     1.        `Ali Ibnul Madany                        8.   Musim
                     2.        Abu Hatim Ar-Razy                      9.   An-Nasa’i
                     3.        Muhammad Ibn Jarir Ath- Thabari 10.  Abu Dawud
                     4.        Muhammad Ibn Sa'ad                    11.  At-tirmidzi
               5.        Ishaq Ibnu Rahawaih                     12.  Ibnu Majah
               6.        Ahmad.                                        13.  Ibnu qutaibah ad-Dainuri
               7.        Al-Bukhari

    f.       Periode Keenam: Dari Abad IV hingga Tahun 656 H.
            Periode keenam ini dimulai dari abad IV hingga tahun 656 H, yaitu pada masa `Abasiyyah angkatan kedua. Periode ini dinamakan Ashru At-Tahdib wa At-Tartibi wa Al-Istidraqi wa Al-jami'.[17][18]
            Ulama-ulama hadis yang muncul pada abad ke-2 dan ke-3, digelari Mutaqaddimin, yang mengumpulkan hadis dengan semata-mata berpegang pada usaha sendiridan  pemeriksaan sendiri, dengan menemui para penghapalnya yang tersebar di setiap pelosok dan penjuru negara Arab, Parsi, dan lain-lainnya.
            Setelah abad ke-3 berlalu, bangkitlah pujangga abad keempat. Para ulama abad keempat ini dan seterusnya digelari `Mutaakhirin'. Kebanyakan hadist yang mereka kumpulkan adalah petikan atau nukilan dari kitab-kitab Mutaqaddimin, hanya sedikit yang dikumpulkan dari usaha mencari sendiri kepada para penghapalnya.
            Pada periode ini muncul kitab-kitab sahih yang tidak terdapat dalam kitab sahih pada abad ketiga. Kitab-kitab itu antara lain:
    1.        Ash-Shahih, susunan Ibnu Khuzaimah
    2.        At-Taqsim wa Anwa', susunan Ibnu Hibban
    3.        Al-Mustadrak, susunan Al-Hakim
    4.        Ash-Shalih, susunan Abu `Awanah
    5.        Al-Muntaqa, susunan Ibnu Jarud
    6.        Al-Mukhtarah, susunan Muhammad Ibn Abdul Wahid Al-Maqdisy.[18][19]
    Di antara usaha-usaha ulama hadis yang terpenting dalam periode ini adalah:
    1.        Mengumpulkan Hadis Al-Bukhari/Muslim dalam sebuah kitab. Di antara kitab yang mengumpulkan hadis-hadis Al-Bukhari dan Muslim adalah Kitab Al Fami' Bain Ash-Shahihani oleh Ismail Ibn Ahmad yang terkenal dengan nama Ibnu Al-Furat (414 H), Muhammad Ibn Nashr Al-Humaidy (488 H); Al-Baghawi oleh Muhammad Ibn Abdul Haq Al-Asybily (582 H).
    2.        Mengumpulkan hadis-hadis dalam kitab enam.
    Di antara kitab yang mengumpulkan hadis-hadis kitab enam, adalah Tajridu As-Shihah oleh Razin Mu'awiyah, Al-Fami' oleh Abdul Haqq Ibn Abdul Ar-Rahman Asy-Asybily, yang terkenal dengan nama Ibnul Kharrat (582 H).
    3.        Mengumpukan hadis-hadis yang terdapat dalam berbagai kitab.
    Di antara kitab-kitab yang mengumpulkan hadis-hadis dari berbagai kitab adalah: (1) Mashabih As-Sunnah oleh Al-Imam Husain Ibn Mas'ud Al-Baghawi (516 H); (2) Yami'ul Masanid wal Alqab, oleh Abdur Rahman ibn Ali Al-Jauzy (597 H); (3) Bakrul Asanid, oleh Al-Hafidh Al-Hasan Ibn Ahmad Al-Samarqandy (49I H).
    4.        Mengumpulan hadis-hadis hukum dan menyusun kitab-kitab ‘Atkraf.



    g.      Periode Ketujuh (656 H-Sekarang)
            Periode ini adalah masa sesudah meninggalnya Khalifah Abasiyyah ke XVII Al-Mu'tasim (w. 656 H.) sampai sekarang. Periode ini dinamakan Ahdu As-Sarhi wa Al Jami' wa At-Takhriji wa Al-Bahtsi, yaitu masa pensyarahan, penghimpunan, pen-tahrij-an, dan pembahasan.[19][20]. Usaha-usaha yang dilakukan oleh ulama dalam masa ini adalah menerbitkan isi kitab-kitab hadis, menyaringnya, dan menyusun kitab enam kitab tahrij, serta membuat kitab-kitab fami' yang umum':
            Pada .periode ini disusun Kitab-kitab Zawa'id, yaitu usaha mengumpulkan hadis yang terdapat dalam kitab yang sebelumnya ke dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya Kitab Zawa'id susunan Ibnu Majah, Kitab Zawa'id As-Sunan Al-Kubra disusun oleh Al-Bushiry, dan masih banyak lagi kitab zawa'id yang lain.
            Di samping itu, para ulama hadis pada periode ini mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat dalam beberapa kitab ke dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya adalah Kitab Fami' Al-Masanid wa As-Sunan Al-Hadi li Aqwami Sanan, karangan Al-Hafidz Ibnu Katsir, dan fami'ul  fawami susunan Al-Hafidz As-Suyuthi (911 H).
            Banyak kitab dalam berbagai ilmu yang mengandung hadis-hadis yang tidak disebut perawinya dan pen-takhrij-nya. Sebagian ulama pada masa ini berusaha menerangkan tempat-tempat pengambilan hadis-hadis itu dan nilai-nilainya dalam sebuah kitab yang tertentu, di antaranya Takhrij Hadis TafsirAl-Kasysyaf karangan Al-Zailai'i (762), Al-Kafi Asy-Syafi fi Tahrij Ahadits Al-Kasyasyaf oleh Ibnu Hajar Al-`Asqalani, dan masih banyak lagi kitab takhrij lain.
            Sebagaimana periode keenam, periode ketujuh ini pun muncul ulama-ulama hadis yang menyusun kitab-kitab Athraf, di antaranya Ithaf Al-Maharah bi Athraf Al- Asyrah oleh Ibnu Hajar Al-`Astqalani, Athraf Al-Musnad Al-Mu'tali bi Athraf Al-Musnad Al-Hanbali oleh Ibnu Hajar, dan masih banyak lagi kitab Athraf yang lainnya.
            Tokoh-tokoh hadis yang terkenal pada masa ini adalah: (1) Adz-Dzahaby (748 H), (2) Ibnu Sayyidinnas (734 H), (3) Ibnu Daqiq Al-`Ied, (4) Muglathai (862 H), (5) Al-Asqalany (852 H), (6) Ad¬Dimyaty (705 H), (7) Al-`Ainy (855 H), (8) As-Suyuthi (911 H), (9) Az-Zarkasy (794 H), (10) Al-Mizzy (742 H), (11) Al-`Alay (761 H), (12) Ibnu Katsir (774 H), (13) Az-Zaily (762 H), (14) Ibnu Rajab (795 H), (15) Ibnu Mulaqqin (804 H), (16) Al-Bulqiny (805 H), (` 7) Al-`Iraqy (w. 806 H), ,(18) Al-Haitsamy (807 H), dan (19) A’ u Zurah (826 H).[20][21]


















    BAB III
    PENUTUP
    A. Kesimpulan
    Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :
    1.      Penyebab dari Kodifikasi Hadist itu sendiri dikarenakan telah banyaknya para sahabat,
    atau ulama penghapal hadist yang meninggal dunia.
    2.      Penyebab Kedua adalah banyaknya beredar Hadist-hadist palsu sehingga perlunya
    kodifikasi hadist yang mulai dilaksanakan secara perdana dan massal pada masa
    pemerintahan Khalifah Umar Ibn Abdil Aziz. Yang mereka hanya memperkuat
    eksistensi golongan dan ras mereka saja.
    3.      Pada Kodifikasi Hadist ini melahirkan berbagai ulama dan tokoh-tokoh Seperti yang kita
    kenal sampai sekarang yaitu Perawi Hadist-hadist shahih seperti Imam Bukhari dan
    Muslim, Athurmudzi, Suanan Abu Daud, dan lain-lain yang  masih banyak lagi.
    4.      Dari sejarah kodifikasi hadist ini, kita bisa mengetahui kapan masa jaya, kapan masa
    kodifikasi yang banyak memunculkan para ulama ahli hadist yang banyak memhasilkn
    kitab-kitab hadist dan pada masa periode siapa kitab-kitab hadist shahih bermunculan
    mulai dari pertama kali di kodifikasi sampai pada masa periode terakhir kemundura
    islam itu sendiri.

    B. SARAN
         Dalam menyusun makalah perkembangan hadis pada masa Rasulullah sampai sekarang pastilah makal ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu bagi para mahasiswa, pembaca dan khususnya kepada dosen pembimbing ulumul hadis, kami sangat mengharapkan keritik dan saran.



























    DAFTAR PUSTAKA

              Aglayanah, Al-Makki, Metode Pengajaran Hadits: Pada Tiga Abad Pertama, terj. Amir Hamzah Fachruddin. Jakarta : Granada Nadia. 1995
    Ahmad, Muhammad, dkk. Ulumul Hadits. Bandung: Pustaka Setia. 2005
               Al-Baghdadi, Abd. Al- Qahir. Al-Farq baina Al-Firaq. Editor M.S. Kailani. Beirut : Dar Al-Ma’arifah. 1983
              Al-Hadi, Abu Muhammad Al-Mahdi Ibn Abd Al-Qadir. tt. Thariqu Takhriq Hadits Rasulullah‘Alaihi Wasallam. Darul Ikhtisam.
    IsmaiI,Syuhudi. Kaidah Kesahihan sanad hadist.Jakarta: Bulan Bintang.1995
              Shiddiqiey,TM.Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist.Semarang: Pustaka Rizki Putra.2001
              Sulaiman,Hasan. Abbas, Alwi, Terjemah lbanatul Ahkam Syarh Bulughuf Maram Jilid I.Surabaya: Mutiara iimu.1995
              Zuhri, Muhammad. Hadist Nabi, Tela'ah Historisdan  Metodologi.Yogyakarta: Tiara Wacana.2003





    [1][1] Endang Soetari, Ilmu Hadits: Kajian Riwayah dan Dirayah. Bandung; Mimbar Pustaka. 2005, hlm. 29.
    [2][2] Ibid. hlm. 30
    [3][3] M. Hasbi Ash-Shidieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Jakarta: Bulan Bintang. 1987. Hlm. 46.
    [4][4] Barmawie Umarie. Status Hadits sebagai Dasar Tasjri. Solo: AB. Siti Sjamsijah. 1965
    [5][5] Soetari. Op.cit. hlm. 41-46. Lihat juga Ash-Shiddieqy. Op. Cit. 59-69. Barmawie Umarie. Op.
      Cit. hlm. 17-18.
    [6][6] Ash- Shiddieqy. Op. cit. hlm. 62.
    [7][7] Ibid. hlm. 63.
    [8][8] Ibid. hlm. 47-54. Lihat juga Ash-Shiddieqy. Op. Cit.hlm. 69-78
    [9][9] Ibid. hlm. 78-88.
    [10][10] Soetari. Op.cit.hlm.54
    [11][11] Ketujuh Fuqaha Madinah adalah AI-Qasim, `Urwah Ibn Zubair, Abu Bakr Ibn Abdir Rahman, Sa'id Ibn Musavyab, Abdillah Ibn Abdullah Ibn `Utbah Ibn Mas'ud, Kharijah Ibn Zaid IbnTsabit, dan Sulaiman IbnYassar. LihatAsh-Shidieqy. op.cit. hlm. 79.
    [12][12] Az-Zuhri menerima hadits dari Ibnu ‘Umar, Sahel ibn Sa’ad, Anas ibn Malik, Mahmud Ibn al-Rabi’, Said Ibn Musaiyab, dan Abu Umamah ibn Sahel.
    [13][13] Ibid.hlm. 8
    [14][14] Ibid. hlm. 83.
    [15][15] Ibid. hlm. 88.
    [16][16] Ibid. hlm. 89-104.
    [17][18] Ibid. hlm. 103
    [18][19]  Ash-Shiddieqy. op.cit. hlm. 115-116
    [19][20] Umarie. op. cit. hlm. 21; Lihat Ash-Shidieqy. op. cit. hlm. 126-134.
    [20][21] Ibid. hlm. 132.

    0 komentar:

    Posting Komentar